PU Bangun Gelar Webinar BIM, Dorong SDM Konstruksi Kuasai Teknologi Engineering Terintegrasi

Perkumpulan Pakar Utama Bangunan Nusantara (PU Bangun) menggelar webinar nasional bertajuk “Penerapan BIM Sebagai Pendukung Engineering yang Terintegrasi pada Proyek Konstruksi” untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) konstruksi dalam menghadapi transformasi digital industri konstruksi Indonesia.

Transformasi digital menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang besar bagi industri konstruksi. Kompleksitas proyek yang semakin tinggi menuntut seluruh disiplin engineering, mulai dari arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal hingga plumbing (MEP), mampu bekerja secara terintegrasi untuk menghasilkan proyek yang lebih efektif, efisien, dan berkualitas.

Menjawab kebutuhan tersebut, PU Bangun menyelenggarakan webinar nasional yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Selasa, 28 Juli 2026 pukul 08.30-11.00 WIB dengan menghadirkan praktisi dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk sebagai narasumber.

Ketua panitia kegiatan dipimpin oleh A. Suko Widigdo dengan Agus S. Riyanto sebagai penanggung jawab kegiatan. Webinar ini juga dimoderatori oleh Doddy Firmansyah, ST.

PU Bangun menilai Building Information Modeling (BIM) kini tidak lagi sekadar teknologi pemodelan tiga dimensi (3D), tetapi telah berkembang menjadi platform pengelolaan informasi proyek yang mampu mengintegrasikan berbagai tahapan pekerjaan konstruksi. BIM juga mendukung integrasi aspek waktu (4D), biaya (5D), hingga pengelolaan aset (6D dan 7D) sehingga pengambilan keputusan dalam proyek dapat dilakukan secara lebih akurat dan transparan.

Pentingnya penguasaan BIM juga sejalan dengan upaya percepatan transformasi digital sektor konstruksi yang terus didorong pemerintah melalui berbagai program pengembangan kompetensi tenaga kerja konstruksi berbasis BIM.

Melalui webinar ini, PU Bangun memiliki sejumlah tujuan strategis, di antaranya meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep dan implementasi BIM, menjelaskan integrasi berbagai disiplin pekerjaan dalam satu platform informasi terpadu, mengurangi potensi konflik desain (clash detection), serta mendukung peningkatan kompetensi SDM konstruksi dalam menghadapi era digitalisasi.

Webinar ini menargetkan sebanyak 150 peserta yang berasal dari berbagai bidang pekerjaan jasa konstruksi, mulai dari operator, teknisi, analis hingga tenaga ahli muda, madya dan utama pada bidang keselamatan konstruksi, arsitektural, gedung, geoteknik dan pondasi, geodesi, proteksi kebakaran, teknik mekanikal, hingga manajemen konstruksi dan manajemen proyek.

Pemodelan Pembesian Foundation dengan Autodesk Revit

Pada sesi pertama, Ina Juneawan selaku BIM Engineer PT Waskita Karya (Persero) Tbk memaparkan materi mengenai Pemodelan Pembesian Foundation di Autodesk Revit. Materi ini memberikan gambaran mengenai standar kompetensi BIM berdasarkan SKKNI Nomor 3 Tahun 2023 yang meliputi kemampuan menyesuaikan data model BIM dengan data engineering, melakukan proses produksi data model BIM, serta mendokumentasikan lembar gambar dari model BIM.

Ina menjelaskan bahwa proses pemodelan pembesian pondasi menggunakan Autodesk Revit dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari penyiapan gambar desain, penggunaan template BIM standar, pengaturan tampilan model, memasukkan dokumen referensi hingga pembuatan model tulangan tiga dimensi berdasarkan Bar Bending Schedule.

Penerapan BIM dalam pekerjaan pembesian pondasi memungkinkan proses engineering dilakukan secara lebih terukur dan terdokumentasi dengan baik sehingga dapat meningkatkan kualitas perencanaan maupun pelaksanaan konstruksi.

Twinmotion Permudah Visualisasi Tahapan Konstruksi

Sementara itu, narasumber kedua Riztanto Obi Nugraha dari Departemen Inovasi dan Manajemen Pengetahuan PT Waskita Karya (Persero) Tbk memaparkan materi Pembuatan Visualisasi Pentahapan Pekerjaan Menggunakan Twinmotion.

Dalam paparannya dijelaskan bahwa simulasi 4D pada proyek konstruksi selama ini umumnya hanya dapat diakses melalui perangkat lunak berlisensi sehingga komunikasi kepada audiens non-teknis menjadi terbatas. Twinmotion hadir sebagai alternatif visualisasi yang lebih fleksibel karena mampu menghasilkan animasi 4D yang realistis dan mudah dibagikan dalam bentuk video maupun aplikasi mandiri (standalone).

Pemanfaatan Twinmotion memberikan sejumlah manfaat, seperti mempermudah pemahaman tahapan konstruksi melalui visualisasi yang komunikatif, meningkatkan kualitas presentasi proyek dengan tampilan sinematik, serta memperluas akses hasil visualisasi tanpa memerlukan perangkat lunak khusus.

Riztanto juga memaparkan alur kerja visualisasi konstruksi menggunakan Twinmotion yang dimulai dari ekspor model BIM, pengelompokan model, penyusunan aset, pembuatan tahapan pekerjaan (phasing group), pengaturan kamera hingga proses rendering dan ekspor media visual.

Salah satu keunggulan Twinmotion adalah kemampuannya menyajikan tahapan pembangunan secara visual dan interaktif sehingga memudahkan seluruh pemangku kepentingan proyek memahami urutan pekerjaan konstruksi secara lebih jelas dan akurat.

Mempersiapkan SDM Konstruksi yang Adaptif

Penyelenggaraan webinar ini menunjukkan komitmen PU Bangun dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja konstruksi nasional. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, penguasaan BIM menjadi salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek konstruksi modern.

Integrasi BIM tidak hanya mampu meningkatkan koordinasi antar-disiplin engineering dan meminimalkan kesalahan desain, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pengelolaan proyek yang lebih transparan, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, PU Bangun berharap para profesional konstruksi mampu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi BIM dalam setiap tahapan proyek sehingga dapat meningkatkan produktivitas, kualitas pekerjaan, serta daya saing SDM konstruksi Indonesia di era transformasi digital.

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Tenaga Kerja Konstruksi

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja secara berkesinambungan setelah memperoleh sertifikasi. Kegiatan PKB dapat berupa seminar, pelatihan, diskusi, focus group discussion (FGD), maupun workshop yang relevan dengan perkembangan teknologi dan regulasi di sektor konstruksi.

Mengingat industri konstruksi terus berkembang, baik dari sisi teknologi material, metode konstruksi, maupun regulasi keselamatan kerja, tenaga kerja yang telah tersertifikasi tetap perlu memperbarui dan memperluas wawasannya melalui program PKB.

PU BANGUN secara rutin menginisiasi berbagai kegiatan PKB bagi anggotanya sebagai bagian dari komitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kualitas tenaga kerja konstruksi di Indonesia.

Mengenal BNSP dan Perannya dalam Sertifikasi Kompetensi Kerja

Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) merupakan lembaga pemerintah non-struktural yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja di Indonesia. BNSP memiliki kewenangan untuk memberikan lisensi kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang akan menyelenggarakan uji kompetensi di berbagai sektor, termasuk sektor konstruksi.

Keberadaan BNSP bertujuan untuk memastikan bahwa proses sertifikasi kompetensi kerja di seluruh Indonesia berjalan secara konsisten, kredibel, dan sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dengan adanya standar yang seragam, sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh LSP berlisensi BNSP dapat diakui secara nasional.

Bagi tenaga kerja konstruksi, memahami peran BNSP penting agar dapat memilih jalur sertifikasi yang tepat dan diakui secara resmi, sehingga sertifikat yang dimiliki benar-benar memberikan nilai tambah dalam pengembangan karier.

Peran Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dalam Sektor Konstruksi

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) memegang peran penting dalam ekosistem sertifikasi tenaga kerja di Indonesia. LSP bertugas menyelenggarakan uji kompetensi serta menerbitkan Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) bagi tenaga kerja yang telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

Di sektor konstruksi, keberadaan LSP sangat dibutuhkan mengingat tingginya kebutuhan akan tenaga kerja bersertifikat, baik untuk memenuhi ketentuan regulasi maupun untuk meningkatkan kualitas hasil pekerjaan konstruksi. LSP bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi profesi, perusahaan, dan lembaga pendidikan, untuk memastikan proses sertifikasi berjalan sesuai standar nasional.

Sebagai salah satu organisasi yang berkomitmen meningkatkan kualitas tenaga kerja konstruksi, PU BANGUN turut berupaya mendorong terbentuknya ekosistem sertifikasi yang lebih mudah diakses oleh anggotanya, termasuk melalui rencana pendirian LSP sendiri di masa mendatang.

Mengenal Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) dan Manfaatnya

Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) adalah bukti pengakuan resmi terhadap kemampuan dan keahlian seseorang di bidang tertentu, khususnya di sektor jasa konstruksi. SKK diterbitkan setelah tenaga kerja melalui proses uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Manfaat utama memiliki SKK antara lain memberikan pengakuan formal atas kompetensi kerja, meningkatkan kepercayaan pengguna jasa, serta menjadi salah satu persyaratan administratif dalam proyek-proyek konstruksi, baik yang didanai pemerintah maupun swasta.

Proses mendapatkan SKK umumnya meliputi beberapa tahap, yaitu pendaftaran, asesmen mandiri, uji kompetensi berupa observasi dan wawancara oleh asesor, hingga penerbitan sertifikat bagi peserta yang dinyatakan kompeten.

Bagi tenaga kerja konstruksi, memiliki SKK bukan sekadar formalitas, melainkan investasi jangka panjang untuk membuka lebih banyak peluang kerja serta meningkatkan profesionalisme di bidang yang digeluti.

Pentingnya Sertifikasi Profesi bagi Tenaga Kerja Konstruksi di Indonesia

Sertifikasi profesi menjadi salah satu tolok ukur penting dalam memastikan kualitas dan profesionalisme tenaga kerja di sektor konstruksi Indonesia. Seiring berkembangnya proyek infrastruktur di berbagai daerah, kebutuhan akan tenaga kerja yang kompeten dan bersertifikat terus meningkat.

Sertifikasi tidak hanya menjadi bukti formal atas kemampuan seseorang, tetapi juga menjadi jaminan mutu bagi pemberi kerja dan pengguna jasa konstruksi. Tenaga kerja yang tersertifikasi umumnya memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap standar keselamatan, mutu pekerjaan, dan regulasi yang berlaku di industri konstruksi.

Selain meningkatkan daya saing individu, sertifikasi profesi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas industri konstruksi secara keseluruhan. Perusahaan konstruksi semakin selektif dalam merekrut tenaga kerja, dan kepemilikan sertifikat kompetensi kerja (SKK) kerap menjadi salah satu syarat utama dalam proses tender maupun rekrutmen proyek.

Berbagai organisasi profesi, termasuk PU BANGUN, terus mendorong tenaga kerja konstruksi untuk mengikuti program pelatihan dan uji kompetensi guna mendapatkan sertifikasi yang diakui secara nasional.