Nomor Identifikasi: 010-PUB-2026-IX
Konstruksi Struktur Bawah Tanah pada Proyek MRT Jakarta CP202: Metode, Tantangan, dan Implementasi Lapangan
| Penulis | Jabatan | Institusi | |
|---|---|---|---|
| Rizal Eka Satria | Deputy Project Manager – MRT Jakarta CP202 | PT Adhi Karya (Persero) Tbk. |
Abstrak
Pembangunan struktur bawah tanah pada proyek MRT Jakarta CP202 merupakan salah satu fase konstruksi paling kompleks dalam pengembangan sistem transportasi massal modern di Jakarta. Studi ini membahas metode konstruksi struktur bawah tanah, terutama top-down method, bottom-up method, serta teknologi terowongan berbasis Tunnel Boring Machine (TBM). Selain itu, jurnal ini menguraikan tantangan teknis di lapangan, standar perencanaan, proses desain, serta implementasi manajemen proyek yang digunakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemilihan metode konstruksi sangat dipengaruhi oleh kondisi lapangan, keterbatasan ruang, kebutuhan percepatan waktu, dan minimisasi gangguan terhadap lingkungan urban. Studi ini diharapkan menjadi rujukan teknis bagi praktisi konstruksi dan akademisi yang meneliti pengembangan struktur bawah tanah di kawasan perkotaan.
Pendahuluan
Pertumbuhan kota Jakarta memerlukan sistem transportasi massal yang modern dan berkelanjutan. MRT Jakarta merupakan solusi strategis untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pembangunan struktur bawah tanah menjadi krusial karena rute MRT CP202 melintasi area padat penduduk dan pusat bisnis.
Konstruksi bawah tanah memiliki tantangan unik, termasuk keterbatasan ruang, perlindungan bangunan eksisting, penurunan permukaan tanah, serta kendala air tanah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan konstruksi yang tepat, aman, dan efisien.

Metode Konstruksi Struktur Bawah Tanah
- Metode Top-Down
Metode top-down banyak digunakan pada kawasan dengan ruang terbatas serta bangunan eksisting yang harus dilindungi. Pada metode ini, struktur permanen seperti roof slab, concourse slab, dan base slab dibangun secara bertahap dari atas ke bawah, sambil melakukan penggalian di bawah slab yang telah dicor.
Keunggulan:
- Mengurangi penurunan tanah (settlement).
- Dapat dikerjakan paralel dengan pekerjaan di atas.
- Minim gangguan lingkungan sekitar.
Tahapan utama meliputi pembangunan dinding diafragma (D-wall), konstruksi kingpost, pengecoran slab, dan penggalian berlapis menggunakan excavator mini.

- Metode Bottom-Up
Metode ini dilakukan dengan menggali tanah hingga kedalaman desain terlebih dahulu, lalu membangun struktur dari dasar menuju permukaan. Meski sederhana, metode ini kurang ideal di area sangat padat karena potensi settlement lebih besar dan keterbatasan ruang.

- Teknologi Shield Tunneling (TBM)
TBM digunakan untuk membangun terowongan yang menghubungkan antarstasiun. Mesin TBM bekerja dengan mengebor tanah sambil memasang segment lining di bagian belakang perisai. Pada proyek CP202, dua TBM digunakan dengan tahapan instalasi, initial drive, main drive, hingga dismantling.
TBM jenis Earth Pressure Balance (EPB) dipilih untuk kondisi tanah Jakarta yang dominan lempung dan pasir, guna menjaga stabilitas muka bor.

Tantangan dan Mitigasi Konstruksi
- Lingkungan Perkotaan yang Padat
Lokasi proyek berada di pusat kota seperti Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar. Risiko utama adalah deformasi tanah yang berpotensi merusak bangunan eksisting. Mitigasi dilakukan menggunakan metode top-down, kontrol deformasi D-wall, serta monitoring real-time.
- Kendala Air Tanah
Kedalaman konstruksi yang mencapai belasan meter membutuhkan penanganan air tanah. Metode top-down dipilih karena tidak memerlukan dewatering besar sehingga mengurangi subsidence.
- Koordinasi dan Standar Teknis
Proyek harus mengikuti standar nasional dan internasional, termasuk SNI 8460:2017 untuk terowongan perisai. Koordinasi dilakukan dengan owner consultant, engineering consultant, dan third-party verifier untuk memastikan keselamatan struktur.

Desain Struktur Bawah Tanah
Desain CP202 mencakup stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar dengan struktur station box, side structures, dan entrance structures. Elemen struktur yang didesain meliputi:
- Dinding diafragma (D-wall)
- Slab atap, concourse, dan base slab
- Kolom basement
- Precast tunnel lining
Simulasi BIM digunakan untuk menganalisis sequence kerja TBM dan meminimalkan risiko.
Manajemen Proyek
Keberhasilan CP202 bergantung pada koordinasi berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan design and build memungkinkan percepatan konstruksi melalui integrasi desain dan eksekusi. Dokumentasi lapangan secara intensif memastikan ketertelusuran setiap tahap dan pengendalian risiko.
Pembahasan
Analisis menunjukan bahwa metode top-down sangat efektif untuk proyek bawah tanah di kawasan padat seperti Jakarta. Penggunaan TBM EPB juga tepat mengingat kondisi tanah Jakarta yang lunak. Dokumentasi dan BIM adalah elemen penting untuk mitigasi risiko dan memastikan keandalan desain.
Dalam konteks urban modern, pembangunan struktur bawah tanah tidak hanya memerlukan kemampuan konstruksi, tetapi juga manajemen risiko geoteknik, manajemen lalu lintas, koordinasi utilitas, serta komunikasi dengan masyarakat.
Kesimpulan
Pembangunan struktur bawah tanah MRT Jakarta CP202 menunjukkan bagaimana kombinasi metode konstruksi modern, teknologi TBM, dan manajemen proyek yang solid dapat menghasilkan pembangunan infrastruktur besar dengan efisien dan aman di lingkungan perkotaan yang kompleks. Pengalaman ini menjadi referensi penting bagi pengembangan proyek serupa di Indonesia.
Daftar Pustaka
Rizal Eka Satria. (2025). Sharing Session: Underground Structure MRT Jakarta CP202. PT Adhi Karya.
Satria, R. E. (2025). Konstruksi struktur bawah tanah pada Proyek MRT Jakarta CP202: Metode, tantangan, dan implementasi lapangan. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Satria, R. E. (2025). Sharing session: Underground structure MRT Jakarta CP202. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.
Badan Standardisasi Nasional. (2017). SNI 8460:2017 Terowongan perisai. Jakarta: BSN.
International Tunnelling and Underground Space Association (ITA). (2014). Guidelines for the design of underground structures. Lausanne: ITA-AITES.
Peck, R. B. (1969). Deep excavations and tunneling in soft ground. Proceedings of the 7th International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering, 225–290.
Hoek, E., & Brown, E. T. (2019). Underground excavations in rock (2nd ed.). London: CRC Press.
Muir Wood, A. M. (2000). Tunnelling: Management by design. London: CRC Press.
Chapman, D., Metje, N., & Stärk, A. (2010). Introduction to tunnel construction. London: Spon Press.
Kata Kunci: Proyek MRT, Terowongan
